ASAL MUASAL NAMA BREBES
Ada beberapa pendapat mengenai asal muasal nama Brebes. Yang pertama, mencoba menghubungkannya dengan keadaan alamiah daerah Brebes yang pada awal mulanya konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air, bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa-rawa. Mengingat banyaknya air yang merembes, kemudian muncullah nama Berbes, yang selanjutnya mengalami perubahan (verbastering) menjadi Brebes.
Pendapat kedua, mencoba menalikannya dengan perihal masuknya agama Islam pada awal mulanya ke Brebes, yang sekalipun dihalang-halangi namun masih bisa merembes, yang dalam bahasa daerah disebut “berbes”. Olah karena itu kemudian muncullah nama Berbes yang selanjutnya berubah menjadi Brebes.
Pendapat ketiga, mencoba menerangkan asal muasal nama Brebes dari kata-kata “bara” dan “basah”. Bara berarti hamparan tanah datar yang luas, sedangkan basah berarti banyak mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang merupakan dataran luas juga mengandung banyak air. Karena kata “bara” diucapkan “bere” dan “basah” diucapkan “besah”, akhirnya lahirlah bere besah”, yang kemudian untuk mudahnya berubah menjadi Brebes.
Ada pula cerita yang berkaitan dengan kata yang akhirnya menjadi Brebes. Diantara Salem – Bantarkawung terdapat gunung bernama Baribis. Dari gunung tersebut mengalir sungai Baribis melalui dataran bagian utara yang bergabung dengan aliran sungai-sungai lain yang merupakan sungai besardi pantai utara Jawa. Sungai Baribis ini jaman dulu dianggap sebagai sungai bertuah/angker, dan juga banyak buayanya. Orang-orang tua pada saat itu banyak melarang anak cucunya untuk datang, menyebrangi, mandi, dan sebagainya di sungai tersebut. Terlebih pada masa perang, orang tua selalu memperingatkan larangan melangkah/menyebrangi sungai tersebut.
Untuk menyakinkan hal ini, maka muncullah sebuah legenda tentang peperangan antara Arya Bangah dengan Ciyung Wanara, di mana akibat menyebrangi sungai tersebut Arya Bangah mengalami kekalahan. dari kepercayaan akan hal itu maka sungai Baribis dijadikan peringatan (Pepenget/pepeling/pepali/larangan) agar janngan sampai pada saat berperang, orang melangkah/menyebrangi sungai tersebut. Karena sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai Baribis dikenal sebagai larangan, sungai Pepali atau sungai Pemali, yang berarti “Pepalang” atau “Larangan”. Jadi menurut legenda di daerah Brebes selatan, sungai Pemali itu semula bernama sungai Baribis yang berhulu di gunung Baribis. Mungkin itu sebabnya daerah yang dialiri sungai itu disebut Baribis, yaitu daerah aliran sungai Baribis. Selanjutnya kata Baribis ini menjadi Brebes.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, nama-nama tempat di pulau Jawa ternyata merupakan cermin dari keadaan alam sekitar masyarakat yang mendiami tempat-temmpat itu dengan cara berpikir mereka. Nama-nama tempat itu bisa kita bedakan dalam dua golongan besar, Pertama, secara spontan lahir dari masyarakat di tempat-tempat itu sendiri. Yang kedua, dengan sengaja diberikan atau diperintahkan oleh seorang penguasa, misalnya nama Surakarta Adiningrat, yang semula dipergunakan oleh Paku Buwono II pada tahun 1745 untuk menyebut nama keratonnya yang baru di daerah Sala.
Golongan yang pertama tersebut bisa kita bedakan lagi dalam beberapa jenis, yaitu nama-nama tempat yang antara lain berasal dari nama-nama ; (1) tanaman, (2) binatang, (3) tambang, (4) orang, serta nama (5) yang mengingatkan kita pada suatu keistiewaan topografis. Adapun nama daerah Brebes termasuk dalam kategori yang kelima. Dalam bahasa Jawa, perkataan “brebes” atau “mbrebes” berarti tansah menu banyune (selalu keluar airnya). Dan nama ini lahir mengingat pada awal sejarahnya, keadaan lahan di kawasan kota Brebes sekarang ini selalu keluar air.
Dari sumber yang dapat ditemukan, pada tahun 1640-1641, nama Brebes sudah mulai tercantum dalam penulisan/laporan atau daftar harian yang dibuat oleh VOC. Lama kelamaan makin banyak uraiannya meskipun hanya dalam hal sebagai tujuan atau persinggahan pengiriman barang-barang penting dan bahan pokok semisal bahan pakaian, bahan makanan, persenjataan, dan sebagainya. Nama Brebes itu sendiri pernah ditulis sebagai “Barbas”, “Barbos”, ATAU “Brebes”.
Apapun dan bagaimanapun asal muasal maupun makna nama Brebes itu, kiranya bukan masalah bagi penduduk Brebes masa kini. Yang penting adalah kita bisa mengambil hikmah didalamnya. Suatu kenyataan bahwa wilayah Kabupaten Brebes dianalisa dari segi lahan/tanah, curah hujan, serta iklimnya, itu semua memiliki prospek atau masa depan yang cerah yang segala faktor penghambatnya, Insya Allah akan dapat diatasi oleh generasi penerusnya.
SELAYANG PANDANG KABUPATEN BREBES TAHUN 2004
LETAK GEOGRAFIS
Kabupaten Brebes merupakan salah satu dari 35 Daerah Otonomi di Propinsi Jawa Tengah. Terletak di pantai utara Laut Jawa sebelah barat, dengan posisi memanjang ke selatan. Dengan batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara : LAUT JAWA
- Sebelah Timur : KABUPATEN TEGAL DAN KOTA TEGAL.
- Sebelah Selatan : KABUPATEN BANYUMAS DAN KABUPATEN CILACAP.
- Sebelah Barat : PROPINSI JAWA BARAT
Kabupaten Brebes terletak di bagian utara paling barat dari Propinsi Jawa Tengah, dan terletak antara :
- Lintang Selatan : 60 441 56,511 - 70 201 51,4811
- Bujur Timur : 1080 411 37,711 - 1090 111 37,711
Dengan ketinggian dari pemukaan air laut sekitar 3 m (Ibukota Kabupaten Brebes). Jarak terjauh : Utara – Selatan sekitar 58 km, dan Barat – Timur sekitar 50 km.
KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN
Jumlah penduduk Kabupaten Brebes berdasarkan registrasi penduduk tahun 2004 tercatat 1.722.306 jiwa, yang terdiri dari 859.887 jiwa penduduk laki-laki, dan 862.419 jiwa penduduk peremmpuan, sehingga sex ratio di Kabupate Brebes adalah 99,71% (artinya jika jumlah penduduk laki-laki ada 10.000 orang maka jumlah penduduk perempuan ada 9.971 orang).
Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Kabupaten Brebes terus bertambah, jika dibandingkan dengan tahun 2003 penduduk Kabupaten Brebes bertambah sebanyak 5.203 jiwa atau 0.30%, jika dibandingkan dengan 5 (lima) tahun yang lalu atau SP 2000 maka penduduk Kabupaten Brebes telah bertambah 23.671 jiwa atau pertumbuhan rata-rata pertahun dalam periode itu adalah 0,35%, sehingga walaupun jumlah penduduk dari tahun ke tahun terus bertambah namun pertumbuhannya mempunyai kecenderungan menurun. Penurunan ini menandakan bahwa program keluarga berencana di Kabupaten Brebes mendapat tanggapan positif dari masyarakat, kemungkinan lain karena Kabupaten Brebes bukan merupkan daerah tujuan bagi penduduk daerah lainnya dalam mencari pekerjaan atau sekolah.
Kemudian menurut persebaran penduduk, sebagian besar mereka tinggal di pedesaan, masalah yang sering terjadi adalah arus urbanisasi ke daerah perkotaan untuk mendapatkan mata pencaharian di daerah perkotaan, sehingga laju pertumbuhan penduduk di perkotaan lebih cepat disbanding dengan daerah pedesaan dan menyebabkan distribusi/sebaran penduduk dalam Kabupaten Brebes tidak merata. Kecamatan yang jumlah penduduknya paling kecil adalah Kecamatan Salem, disusul Kecamatan Kersana, sedangkan Kecamatan yang terbanyak jumlah penduduk adalah Kecamatan Bulakamba, disusul Kecamatan Brebes.
Bila dilihat dari luas wilayahnya, kepadatan penduduk rata-rata di Kabupaten Brebes sebesar 1.038 jiwa per km2, dari 17 Kecamatan yang terpadat adalah Kecamatan Jatibarang sebesar 2.385 jiwa per km2, sedangkan yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Salem sebesar 362 jiwa per km2.
PEMERINTAH DAERAH
Roda pemerintahan daerah Kabupaten Brebes diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintah oleh pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. 22 tahun 1999). Pemerintah Kabupaten Brebes dipimpin oleh Bupati dan wakil bupati dengan dibantu oleh sekretaris daerah dan perangkat pemerintah Kabupaten Brebes yang ada.
Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Brebes yang selanjutnya dapat disebut sebagai Badan Legislatif Daerah yang terdiri dari 5 fraksi hasil Pemilihan Umum tahun 2004. kelima fraksi tersebut adalah Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-DIP), Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-PKB), Fraksi Partai Golkar (F-PG), Fraksi Partai Persatuan Pembangunan F-PPP) dan Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN).
WILAYAH ADMINISTRASI
Kabupaten Brebes terbagi menjadi 17 Kecamatan yang terdiri dari 292 desa dan 5 kelurahan, yang semuanya merupakan desa/kelurahan swasembada, kemudian terbagi menjadi wilayah lebih kecil lagi yang terdiri dari 1.112 dusun, 1.615 RW/ lingkungan dan 8.002 Rukun tetangga (RT).
Adapun perincian desa/kelurahan per Kecamatan adalah sebagai berikut :
JUMLAH
DESA DUKUH RT RW
1 Salem 21 82 254 60
2 Bantarkawung 18 114 393 93
3 Bumiayu 15 116 538 89
4 Paguyangan 12 151 495 73
5 Sirampog 13 137 262 63
6 Tonjong 14 82 301 83
7 Larangan 11 49 627 80
8 Ketanggungan 21 66 562 107
9 Banjarharjo 25 59 570 127
10 Losari 22 47 561 99
11 Tanjung 18 30 338 79
12 Kersana 13 13 384 77
13 Bulakamba 19 16 729 150
14 Wanasari 20 38 683 154
15 Songgom 10 27 243 58
16 Jatibarang 22 37 385 91
17 Brebes 23 48 677 132
JUMLAH 297 1.112 8.002 1.615
Sumber : Brebes dalam Angka tahun 2004
PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan bagian integral dari pembangunan, salah satu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena pembangunan tidak dapat mengandalkan hanya pada sumber daya alam saja, maka usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia mutlak diperlukan, untuk mencapai tujuan ini salah satu cara yang harus ditempuh adalah lewat jalur pendidikan. Sebagai latar belakang pendidikan di Kabupaten Brebes terlihat pada tabel berikut :
TAMAT PENDIDIKAN
SD SLTP SLTA AKADEMI
1 Salem 9.228 22.637 3.937 2.487 650
2 Bantarkawung 23.111 44.445 5.388 3.277 906
3 Bumiayu 23.732 30.598 8.503 6.704 1.565
4 Paguyangan 26.937 28.876 8.825 4.872 814
5 Sirampog 15.258 15.386 6.065 3.199 668
6 Tonjong 16.119 19.321 8.380 4.182 931
7 Larangan 45.980 45.057 11.030 4.647 921
8 Ketanggungan 28.393 45.157 9.112 5.829 1.246
9 Banjarharjo 20.182 43.219 11.459 4.184 940
10 Losari 33.389 39.706 10.950 6.827 1.121
11 Tanjung 21.058 24.883 7.538 4.264 827
12 Kersana 21.058 16.990 5.042 2.714 591
13 Bulakamba 21.355 62.124 16.696 13.343 1.239
14 Wanasari 30.911 39.821 11.258 8.372 1.442
15 Songgom 40.266 18.887 6.437 5.105 1.033
16 Jatibarang 25.460 26.769 9.795 5.806 1.120
17 Brebes 16.825 41.096 17.937 20.073 6.091
JUMLAH 426.520 564.972 169.352 105.835 22.105
Ada beberapa pendapat mengenai asal muasal nama Brebes. Yang pertama, mencoba menghubungkannya dengan keadaan alamiah daerah Brebes yang pada awal mulanya konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air, bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa-rawa. Mengingat banyaknya air yang merembes, kemudian muncullah nama Berbes, yang selanjutnya mengalami perubahan (verbastering) menjadi Brebes.
Pendapat kedua, mencoba menalikannya dengan perihal masuknya agama Islam pada awal mulanya ke Brebes, yang sekalipun dihalang-halangi namun masih bisa merembes, yang dalam bahasa daerah disebut “berbes”. Olah karena itu kemudian muncullah nama Berbes yang selanjutnya berubah menjadi Brebes.
Pendapat ketiga, mencoba menerangkan asal muasal nama Brebes dari kata-kata “bara” dan “basah”. Bara berarti hamparan tanah datar yang luas, sedangkan basah berarti banyak mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang merupakan dataran luas juga mengandung banyak air. Karena kata “bara” diucapkan “bere” dan “basah” diucapkan “besah”, akhirnya lahirlah bere besah”, yang kemudian untuk mudahnya berubah menjadi Brebes.
Ada pula cerita yang berkaitan dengan kata yang akhirnya menjadi Brebes. Diantara Salem – Bantarkawung terdapat gunung bernama Baribis. Dari gunung tersebut mengalir sungai Baribis melalui dataran bagian utara yang bergabung dengan aliran sungai-sungai lain yang merupakan sungai besardi pantai utara Jawa. Sungai Baribis ini jaman dulu dianggap sebagai sungai bertuah/angker, dan juga banyak buayanya. Orang-orang tua pada saat itu banyak melarang anak cucunya untuk datang, menyebrangi, mandi, dan sebagainya di sungai tersebut. Terlebih pada masa perang, orang tua selalu memperingatkan larangan melangkah/menyebrangi sungai tersebut.
Untuk menyakinkan hal ini, maka muncullah sebuah legenda tentang peperangan antara Arya Bangah dengan Ciyung Wanara, di mana akibat menyebrangi sungai tersebut Arya Bangah mengalami kekalahan. dari kepercayaan akan hal itu maka sungai Baribis dijadikan peringatan (Pepenget/pepeling/pepali/larangan) agar janngan sampai pada saat berperang, orang melangkah/menyebrangi sungai tersebut. Karena sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai Baribis dikenal sebagai larangan, sungai Pepali atau sungai Pemali, yang berarti “Pepalang” atau “Larangan”. Jadi menurut legenda di daerah Brebes selatan, sungai Pemali itu semula bernama sungai Baribis yang berhulu di gunung Baribis. Mungkin itu sebabnya daerah yang dialiri sungai itu disebut Baribis, yaitu daerah aliran sungai Baribis. Selanjutnya kata Baribis ini menjadi Brebes.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, nama-nama tempat di pulau Jawa ternyata merupakan cermin dari keadaan alam sekitar masyarakat yang mendiami tempat-temmpat itu dengan cara berpikir mereka. Nama-nama tempat itu bisa kita bedakan dalam dua golongan besar, Pertama, secara spontan lahir dari masyarakat di tempat-tempat itu sendiri. Yang kedua, dengan sengaja diberikan atau diperintahkan oleh seorang penguasa, misalnya nama Surakarta Adiningrat, yang semula dipergunakan oleh Paku Buwono II pada tahun 1745 untuk menyebut nama keratonnya yang baru di daerah Sala.
Golongan yang pertama tersebut bisa kita bedakan lagi dalam beberapa jenis, yaitu nama-nama tempat yang antara lain berasal dari nama-nama ; (1) tanaman, (2) binatang, (3) tambang, (4) orang, serta nama (5) yang mengingatkan kita pada suatu keistiewaan topografis. Adapun nama daerah Brebes termasuk dalam kategori yang kelima. Dalam bahasa Jawa, perkataan “brebes” atau “mbrebes” berarti tansah menu banyune (selalu keluar airnya). Dan nama ini lahir mengingat pada awal sejarahnya, keadaan lahan di kawasan kota Brebes sekarang ini selalu keluar air.
Dari sumber yang dapat ditemukan, pada tahun 1640-1641, nama Brebes sudah mulai tercantum dalam penulisan/laporan atau daftar harian yang dibuat oleh VOC. Lama kelamaan makin banyak uraiannya meskipun hanya dalam hal sebagai tujuan atau persinggahan pengiriman barang-barang penting dan bahan pokok semisal bahan pakaian, bahan makanan, persenjataan, dan sebagainya. Nama Brebes itu sendiri pernah ditulis sebagai “Barbas”, “Barbos”, ATAU “Brebes”.
Apapun dan bagaimanapun asal muasal maupun makna nama Brebes itu, kiranya bukan masalah bagi penduduk Brebes masa kini. Yang penting adalah kita bisa mengambil hikmah didalamnya. Suatu kenyataan bahwa wilayah Kabupaten Brebes dianalisa dari segi lahan/tanah, curah hujan, serta iklimnya, itu semua memiliki prospek atau masa depan yang cerah yang segala faktor penghambatnya, Insya Allah akan dapat diatasi oleh generasi penerusnya.
SELAYANG PANDANG KABUPATEN BREBES TAHUN 2004
LETAK GEOGRAFIS
Kabupaten Brebes merupakan salah satu dari 35 Daerah Otonomi di Propinsi Jawa Tengah. Terletak di pantai utara Laut Jawa sebelah barat, dengan posisi memanjang ke selatan. Dengan batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara : LAUT JAWA
- Sebelah Timur : KABUPATEN TEGAL DAN KOTA TEGAL.
- Sebelah Selatan : KABUPATEN BANYUMAS DAN KABUPATEN CILACAP.
- Sebelah Barat : PROPINSI JAWA BARAT
Kabupaten Brebes terletak di bagian utara paling barat dari Propinsi Jawa Tengah, dan terletak antara :
- Lintang Selatan : 60 441 56,511 - 70 201 51,4811
- Bujur Timur : 1080 411 37,711 - 1090 111 37,711
Dengan ketinggian dari pemukaan air laut sekitar 3 m (Ibukota Kabupaten Brebes). Jarak terjauh : Utara – Selatan sekitar 58 km, dan Barat – Timur sekitar 50 km.
KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN
Jumlah penduduk Kabupaten Brebes berdasarkan registrasi penduduk tahun 2004 tercatat 1.722.306 jiwa, yang terdiri dari 859.887 jiwa penduduk laki-laki, dan 862.419 jiwa penduduk peremmpuan, sehingga sex ratio di Kabupate Brebes adalah 99,71% (artinya jika jumlah penduduk laki-laki ada 10.000 orang maka jumlah penduduk perempuan ada 9.971 orang).
Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Kabupaten Brebes terus bertambah, jika dibandingkan dengan tahun 2003 penduduk Kabupaten Brebes bertambah sebanyak 5.203 jiwa atau 0.30%, jika dibandingkan dengan 5 (lima) tahun yang lalu atau SP 2000 maka penduduk Kabupaten Brebes telah bertambah 23.671 jiwa atau pertumbuhan rata-rata pertahun dalam periode itu adalah 0,35%, sehingga walaupun jumlah penduduk dari tahun ke tahun terus bertambah namun pertumbuhannya mempunyai kecenderungan menurun. Penurunan ini menandakan bahwa program keluarga berencana di Kabupaten Brebes mendapat tanggapan positif dari masyarakat, kemungkinan lain karena Kabupaten Brebes bukan merupkan daerah tujuan bagi penduduk daerah lainnya dalam mencari pekerjaan atau sekolah.
Kemudian menurut persebaran penduduk, sebagian besar mereka tinggal di pedesaan, masalah yang sering terjadi adalah arus urbanisasi ke daerah perkotaan untuk mendapatkan mata pencaharian di daerah perkotaan, sehingga laju pertumbuhan penduduk di perkotaan lebih cepat disbanding dengan daerah pedesaan dan menyebabkan distribusi/sebaran penduduk dalam Kabupaten Brebes tidak merata. Kecamatan yang jumlah penduduknya paling kecil adalah Kecamatan Salem, disusul Kecamatan Kersana, sedangkan Kecamatan yang terbanyak jumlah penduduk adalah Kecamatan Bulakamba, disusul Kecamatan Brebes.
Bila dilihat dari luas wilayahnya, kepadatan penduduk rata-rata di Kabupaten Brebes sebesar 1.038 jiwa per km2, dari 17 Kecamatan yang terpadat adalah Kecamatan Jatibarang sebesar 2.385 jiwa per km2, sedangkan yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Salem sebesar 362 jiwa per km2.
PEMERINTAH DAERAH
Roda pemerintahan daerah Kabupaten Brebes diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintah oleh pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. 22 tahun 1999). Pemerintah Kabupaten Brebes dipimpin oleh Bupati dan wakil bupati dengan dibantu oleh sekretaris daerah dan perangkat pemerintah Kabupaten Brebes yang ada.
Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Brebes yang selanjutnya dapat disebut sebagai Badan Legislatif Daerah yang terdiri dari 5 fraksi hasil Pemilihan Umum tahun 2004. kelima fraksi tersebut adalah Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-DIP), Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-PKB), Fraksi Partai Golkar (F-PG), Fraksi Partai Persatuan Pembangunan F-PPP) dan Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN).
WILAYAH ADMINISTRASI
Kabupaten Brebes terbagi menjadi 17 Kecamatan yang terdiri dari 292 desa dan 5 kelurahan, yang semuanya merupakan desa/kelurahan swasembada, kemudian terbagi menjadi wilayah lebih kecil lagi yang terdiri dari 1.112 dusun, 1.615 RW/ lingkungan dan 8.002 Rukun tetangga (RT).
Adapun perincian desa/kelurahan per Kecamatan adalah sebagai berikut :
JUMLAH
DESA DUKUH RT RW
1 Salem 21 82 254 60
2 Bantarkawung 18 114 393 93
3 Bumiayu 15 116 538 89
4 Paguyangan 12 151 495 73
5 Sirampog 13 137 262 63
6 Tonjong 14 82 301 83
7 Larangan 11 49 627 80
8 Ketanggungan 21 66 562 107
9 Banjarharjo 25 59 570 127
10 Losari 22 47 561 99
11 Tanjung 18 30 338 79
12 Kersana 13 13 384 77
13 Bulakamba 19 16 729 150
14 Wanasari 20 38 683 154
15 Songgom 10 27 243 58
16 Jatibarang 22 37 385 91
17 Brebes 23 48 677 132
JUMLAH 297 1.112 8.002 1.615
Sumber : Brebes dalam Angka tahun 2004
PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan bagian integral dari pembangunan, salah satu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena pembangunan tidak dapat mengandalkan hanya pada sumber daya alam saja, maka usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia mutlak diperlukan, untuk mencapai tujuan ini salah satu cara yang harus ditempuh adalah lewat jalur pendidikan. Sebagai latar belakang pendidikan di Kabupaten Brebes terlihat pada tabel berikut :
TAMAT PENDIDIKAN
SD SLTP SLTA AKADEMI
1 Salem 9.228 22.637 3.937 2.487 650
2 Bantarkawung 23.111 44.445 5.388 3.277 906
3 Bumiayu 23.732 30.598 8.503 6.704 1.565
4 Paguyangan 26.937 28.876 8.825 4.872 814
5 Sirampog 15.258 15.386 6.065 3.199 668
6 Tonjong 16.119 19.321 8.380 4.182 931
7 Larangan 45.980 45.057 11.030 4.647 921
8 Ketanggungan 28.393 45.157 9.112 5.829 1.246
9 Banjarharjo 20.182 43.219 11.459 4.184 940
10 Losari 33.389 39.706 10.950 6.827 1.121
11 Tanjung 21.058 24.883 7.538 4.264 827
12 Kersana 21.058 16.990 5.042 2.714 591
13 Bulakamba 21.355 62.124 16.696 13.343 1.239
14 Wanasari 30.911 39.821 11.258 8.372 1.442
15 Songgom 40.266 18.887 6.437 5.105 1.033
16 Jatibarang 25.460 26.769 9.795 5.806 1.120
17 Brebes 16.825 41.096 17.937 20.073 6.091
JUMLAH 426.520 564.972 169.352 105.835 22.105
NAMA-NAMA BUPATI BREBES
Selama 326 tahun dari tahun 1678 sampai dengan tahun 2003, Kabupaten Brebes telah mempunyai Bupati sebagai berikut :
1. Tumenggung Arya Suralaya (1678-1683) 5 tahun
2. Tumenggung Puspanegara I
3. Tumenggung Puspaningrat
(Puspanegara II)(1683-1809) 126 tahun
4. Kemungkinan Puspanegara III
5. Kanjeng Adipati Ariya Panatayuda I
(Sura) (Dalem Sura) (1809-1836) 27 tahun
6. Kanjeng Adipati Ariya Panatayuda II
(Karta) (Dalem Kulampok) (1836-1850) 14 tahun
7. Kanjeng Adipati Ariya Singasari
Panatayuda III (surya) (dalem Karanganyar) (1850-1878) 28 tahun
8. Raden Tumenggung Cakraatmajaya
Pada tahun 1878 berganti nama
Menjadi Cakradiningrat (1876-1880) 4 tahun
9. Raden Mas Adipati Ariya
Candranegara I (1880-1885) 5 tahun
10. Raden Mas Tumenggung
Sumitra kemudian berganti nama
Raden Mas Adipati Ariya
Candranegara (II) (1885-1907) 22 tahun
11. Raden Mas Martana (1909-1929) 11 tahun
12. Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ariya
Purnama Hadiningrat (1920-1929) 9 tahun
13. Raden Sajirun (Hanya ± 8 bulan) (1929- )
14. Raden Adipati Ariya Sutirta Pringgahadirta (1931-1942) 11 tahun
15. Raden Sunarya (1942-1945) 3 tahun
16. Sarimin Reksadihardja (1946-1947) 1 tahun
17. Kyai Haji Syatori (1946-1947) 1 tahun
18. Raden Awal (1947-1949) 2 tahun
(Pada masa pemerintahan recomba/belanda)
Dalam kurun waktu ini di pedalaman (tepatnya di desa Ciputih/Bentarsari, Kecamatan Salem ada pemerintahan Kabupaten.
Brebes Bupatinya :
19. Agus Miftah (1947-1948) 1 Tahun
Kemudian Pemerintahan Kabupaten Brebes mengungsi lebih kedalam lagi, yaitu di Wanasaba, sampai pada pengakuan kedaulatan RI oleh kerajaan belanda, bupatinya :
20. Raden Sumarna
Bupati Raden Sumarna ini menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan kabupaten Brebes dari Raden Awal. Berarti telah memegang jabatan Bupati Brebes (1948-1950) 2 Tahun.
21. Mas Slamet (1950-1958) 6 Tahun
22. Raden Mardjaban (1956-1966) 10 tahun
23. Raden Sartono Gondosoewandito, S.H (1967-1979) 12 Tahun
24. H. Syafrul Supardi (1979-1989) 10 Tahun
25. H. Hardono (1989-1994) 5 Tahun
26. H. Syamsuddin Sagiman (1994-1999) 5 Tahun
27. H. M. Tadjudin Nuraly (1999-2001)
28. Indra Kusuma (2002-sekarang)
Selama 326 tahun dari tahun 1678 sampai dengan tahun 2003, Kabupaten Brebes telah mempunyai Bupati sebagai berikut :
1. Tumenggung Arya Suralaya (1678-1683) 5 tahun
2. Tumenggung Puspanegara I
3. Tumenggung Puspaningrat
(Puspanegara II)(1683-1809) 126 tahun
4. Kemungkinan Puspanegara III
5. Kanjeng Adipati Ariya Panatayuda I
(Sura) (Dalem Sura) (1809-1836) 27 tahun
6. Kanjeng Adipati Ariya Panatayuda II
(Karta) (Dalem Kulampok) (1836-1850) 14 tahun
7. Kanjeng Adipati Ariya Singasari
Panatayuda III (surya) (dalem Karanganyar) (1850-1878) 28 tahun
8. Raden Tumenggung Cakraatmajaya
Pada tahun 1878 berganti nama
Menjadi Cakradiningrat (1876-1880) 4 tahun
9. Raden Mas Adipati Ariya
Candranegara I (1880-1885) 5 tahun
10. Raden Mas Tumenggung
Sumitra kemudian berganti nama
Raden Mas Adipati Ariya
Candranegara (II) (1885-1907) 22 tahun
11. Raden Mas Martana (1909-1929) 11 tahun
12. Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ariya
Purnama Hadiningrat (1920-1929) 9 tahun
13. Raden Sajirun (Hanya ± 8 bulan) (1929- )
14. Raden Adipati Ariya Sutirta Pringgahadirta (1931-1942) 11 tahun
15. Raden Sunarya (1942-1945) 3 tahun
16. Sarimin Reksadihardja (1946-1947) 1 tahun
17. Kyai Haji Syatori (1946-1947) 1 tahun
18. Raden Awal (1947-1949) 2 tahun
(Pada masa pemerintahan recomba/belanda)
Dalam kurun waktu ini di pedalaman (tepatnya di desa Ciputih/Bentarsari, Kecamatan Salem ada pemerintahan Kabupaten.
Brebes Bupatinya :
19. Agus Miftah (1947-1948) 1 Tahun
Kemudian Pemerintahan Kabupaten Brebes mengungsi lebih kedalam lagi, yaitu di Wanasaba, sampai pada pengakuan kedaulatan RI oleh kerajaan belanda, bupatinya :
20. Raden Sumarna
Bupati Raden Sumarna ini menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan kabupaten Brebes dari Raden Awal. Berarti telah memegang jabatan Bupati Brebes (1948-1950) 2 Tahun.
21. Mas Slamet (1950-1958) 6 Tahun
22. Raden Mardjaban (1956-1966) 10 tahun
23. Raden Sartono Gondosoewandito, S.H (1967-1979) 12 Tahun
24. H. Syafrul Supardi (1979-1989) 10 Tahun
25. H. Hardono (1989-1994) 5 Tahun
26. H. Syamsuddin Sagiman (1994-1999) 5 Tahun
27. H. M. Tadjudin Nuraly (1999-2001)
28. Indra Kusuma (2002-sekarang)
Nama :
Miftahul Faizin
Prodi :
PSIK-B
NIM :
010113a073