Rabu, 13 November 2013



ASAL MUASAL NAMA BREBES

Ada beberapa pendapat mengenai asal muasal nama Brebes. Yang pertama, mencoba menghubungkannya dengan keadaan alamiah daerah Brebes yang pada awal mulanya konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air, bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa-rawa. Mengingat banyaknya air yang merembes, kemudian muncullah nama Berbes, yang selanjutnya mengalami perubahan (verbastering) menjadi Brebes.
Pendapat kedua, mencoba menalikannya dengan perihal masuknya agama Islam pada awal mulanya ke Brebes, yang sekalipun dihalang-halangi namun masih bisa merembes, yang dalam bahasa daerah disebut “berbes”. Olah karena itu kemudian muncullah nama Berbes yang selanjutnya berubah menjadi Brebes.
Pendapat ketiga, mencoba menerangkan asal muasal nama Brebes dari kata-kata “bara” dan “basah”. Bara berarti hamparan tanah datar yang luas, sedangkan basah berarti banyak mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang merupakan dataran luas juga mengandung banyak air. Karena kata “bara” diucapkan “bere” dan “basah” diucapkan “besah”, akhirnya lahirlah bere besah”, yang kemudian untuk mudahnya berubah menjadi Brebes.
Ada pula cerita yang berkaitan dengan kata yang akhirnya menjadi Brebes. Diantara Salem – Bantarkawung terdapat gunung bernama Baribis. Dari gunung tersebut mengalir sungai Baribis melalui dataran bagian utara yang bergabung dengan aliran sungai-sungai lain yang merupakan sungai besardi pantai utara Jawa. Sungai Baribis ini jaman dulu dianggap sebagai sungai bertuah/angker, dan juga banyak buayanya. Orang-orang tua pada saat itu banyak melarang anak cucunya untuk datang, menyebrangi, mandi, dan sebagainya di sungai tersebut. Terlebih pada masa perang, orang tua selalu memperingatkan larangan melangkah/menyebrangi sungai tersebut.
Untuk menyakinkan hal ini, maka muncullah sebuah legenda tentang peperangan antara Arya Bangah dengan Ciyung Wanara, di mana akibat menyebrangi sungai tersebut Arya Bangah mengalami kekalahan. dari kepercayaan akan hal itu maka sungai Baribis dijadikan peringatan (Pepenget/pepeling/pepali/larangan) agar janngan sampai pada saat berperang, orang melangkah/menyebrangi sungai tersebut. Karena sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai Baribis dikenal sebagai larangan, sungai Pepali atau sungai Pemali, yang berarti “Pepalang” atau “Larangan”. Jadi menurut legenda di daerah Brebes selatan, sungai Pemali itu semula bernama sungai Baribis yang berhulu di gunung Baribis. Mungkin itu sebabnya daerah yang dialiri sungai itu disebut Baribis, yaitu daerah aliran sungai Baribis. Selanjutnya kata Baribis ini menjadi Brebes.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, nama-nama tempat di pulau Jawa ternyata merupakan cermin dari keadaan alam sekitar masyarakat yang mendiami tempat-temmpat itu dengan cara berpikir mereka. Nama-nama tempat itu bisa kita bedakan dalam dua golongan besar, Pertama, secara spontan lahir dari masyarakat di tempat-tempat itu sendiri. Yang kedua, dengan sengaja diberikan atau diperintahkan oleh seorang penguasa, misalnya nama Surakarta Adiningrat, yang semula dipergunakan oleh Paku Buwono II pada tahun 1745 untuk menyebut nama keratonnya yang baru di daerah Sala.
Golongan yang pertama tersebut bisa kita bedakan lagi dalam beberapa jenis, yaitu nama-nama tempat yang antara lain berasal dari nama-nama ; (1) tanaman, (2) binatang, (3) tambang, (4) orang, serta nama (5) yang mengingatkan kita pada suatu keistiewaan topografis. Adapun nama daerah Brebes termasuk dalam kategori yang kelima. Dalam bahasa Jawa, perkataan “brebes” atau “mbrebes” berarti tansah menu banyune (selalu keluar airnya). Dan nama ini lahir mengingat pada awal sejarahnya, keadaan lahan di kawasan kota Brebes sekarang ini selalu keluar air.
Dari sumber yang dapat ditemukan, pada tahun 1640-1641, nama Brebes sudah mulai tercantum dalam penulisan/laporan atau daftar harian yang dibuat oleh VOC. Lama kelamaan makin banyak uraiannya meskipun hanya dalam hal sebagai tujuan atau persinggahan pengiriman barang-barang penting dan bahan pokok semisal bahan pakaian, bahan makanan, persenjataan, dan sebagainya. Nama Brebes itu sendiri pernah ditulis sebagai “Barbas”, “Barbos”, ATAU “Brebes”.
Apapun dan bagaimanapun asal muasal maupun makna nama Brebes itu, kiranya bukan masalah bagi penduduk Brebes masa kini. Yang penting adalah kita bisa mengambil hikmah didalamnya. Suatu kenyataan bahwa wilayah Kabupaten Brebes dianalisa dari segi lahan/tanah, curah hujan, serta iklimnya, itu semua memiliki prospek atau masa depan yang cerah yang segala faktor penghambatnya, Insya Allah akan dapat diatasi oleh generasi penerusnya.


SELAYANG PANDANG KABUPATEN BREBES TAHUN 2004

LETAK GEOGRAFIS
Kabupaten Brebes merupakan salah satu dari 35 Daerah Otonomi di Propinsi Jawa Tengah. Terletak di pantai utara Laut Jawa sebelah barat, dengan posisi memanjang ke selatan. Dengan batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara : LAUT JAWA
- Sebelah Timur : KABUPATEN TEGAL DAN KOTA TEGAL.
- Sebelah Selatan : KABUPATEN BANYUMAS DAN KABUPATEN CILACAP.
- Sebelah Barat : PROPINSI JAWA BARAT

Kabupaten Brebes terletak di bagian utara paling barat dari Propinsi Jawa Tengah, dan terletak antara :
- Lintang Selatan : 60 441 56,511 - 70 201 51,4811
- Bujur Timur : 1080 411 37,711 - 1090 111 37,711
Dengan ketinggian dari pemukaan air laut sekitar 3 m (Ibukota Kabupaten Brebes). Jarak terjauh : Utara – Selatan sekitar 58 km, dan Barat – Timur sekitar 50 km.


KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN
Jumlah penduduk Kabupaten Brebes berdasarkan registrasi penduduk tahun 2004 tercatat 1.722.306 jiwa, yang terdiri dari 859.887 jiwa penduduk laki-laki, dan 862.419 jiwa penduduk peremmpuan, sehingga sex ratio di Kabupate Brebes adalah 99,71% (artinya jika jumlah penduduk laki-laki ada 10.000 orang maka jumlah penduduk perempuan ada 9.971 orang).
Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Kabupaten Brebes terus bertambah, jika dibandingkan dengan tahun 2003 penduduk Kabupaten Brebes bertambah sebanyak 5.203 jiwa atau 0.30%, jika dibandingkan dengan 5 (lima) tahun yang lalu atau SP 2000 maka penduduk Kabupaten Brebes telah bertambah 23.671 jiwa atau pertumbuhan rata-rata pertahun dalam periode itu adalah 0,35%, sehingga walaupun jumlah penduduk dari tahun ke tahun terus bertambah namun pertumbuhannya mempunyai kecenderungan menurun. Penurunan ini menandakan bahwa program keluarga berencana di Kabupaten Brebes mendapat tanggapan positif dari masyarakat, kemungkinan lain karena Kabupaten Brebes bukan merupkan daerah tujuan bagi penduduk daerah lainnya dalam mencari pekerjaan atau sekolah.
Kemudian menurut persebaran penduduk, sebagian besar mereka tinggal di pedesaan, masalah yang sering terjadi adalah arus urbanisasi ke daerah perkotaan untuk mendapatkan mata pencaharian di daerah perkotaan, sehingga laju pertumbuhan penduduk di perkotaan lebih cepat disbanding dengan daerah pedesaan dan menyebabkan distribusi/sebaran penduduk dalam Kabupaten Brebes tidak merata. Kecamatan yang jumlah penduduknya paling kecil adalah Kecamatan Salem, disusul Kecamatan Kersana, sedangkan Kecamatan yang terbanyak jumlah penduduk adalah Kecamatan Bulakamba, disusul Kecamatan Brebes.
Bila dilihat dari luas wilayahnya, kepadatan penduduk rata-rata di Kabupaten Brebes sebesar 1.038 jiwa per km2, dari 17 Kecamatan yang terpadat adalah Kecamatan Jatibarang sebesar 2.385 jiwa per km2, sedangkan yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Salem sebesar 362 jiwa per km2.

PEMERINTAH DAERAH
Roda pemerintahan daerah Kabupaten Brebes diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintah oleh pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. 22 tahun 1999). Pemerintah Kabupaten Brebes dipimpin oleh Bupati dan wakil bupati dengan dibantu oleh sekretaris daerah dan perangkat pemerintah Kabupaten Brebes yang ada.
Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Brebes yang selanjutnya dapat disebut sebagai Badan Legislatif Daerah yang terdiri dari 5 fraksi hasil Pemilihan Umum tahun 2004. kelima fraksi tersebut adalah Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-DIP), Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-PKB), Fraksi Partai Golkar (F-PG), Fraksi Partai Persatuan Pembangunan F-PPP) dan Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN).

WILAYAH ADMINISTRASI
Kabupaten Brebes terbagi menjadi 17 Kecamatan yang terdiri dari 292 desa dan 5 kelurahan, yang semuanya merupakan desa/kelurahan swasembada, kemudian terbagi menjadi wilayah lebih kecil lagi yang terdiri dari 1.112 dusun, 1.615 RW/ lingkungan dan 8.002 Rukun tetangga (RT).
Adapun perincian desa/kelurahan per Kecamatan adalah sebagai berikut :

JUMLAH
DESA DUKUH RT RW
1 Salem 21 82 254 60
2 Bantarkawung 18 114 393 93
3 Bumiayu 15 116 538 89
4 Paguyangan 12 151 495 73
5 Sirampog 13 137 262 63
6 Tonjong 14 82 301 83
7 Larangan 11 49 627 80
8 Ketanggungan 21 66 562 107
9 Banjarharjo 25 59 570 127
10 Losari 22 47 561 99
11 Tanjung 18 30 338 79
12 Kersana 13 13 384 77
13 Bulakamba 19 16 729 150
14 Wanasari 20 38 683 154
15 Songgom 10 27 243 58
16 Jatibarang 22 37 385 91
17 Brebes 23 48 677 132
JUMLAH 297 1.112 8.002 1.615
Sumber : Brebes dalam Angka tahun 2004


PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan bagian integral dari pembangunan, salah satu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena pembangunan tidak dapat mengandalkan hanya pada sumber daya alam saja, maka usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia mutlak diperlukan, untuk mencapai tujuan ini salah satu cara yang harus ditempuh adalah lewat jalur pendidikan. Sebagai latar belakang pendidikan di Kabupaten Brebes terlihat pada tabel berikut :


TAMAT PENDIDIKAN
SD SLTP SLTA AKADEMI
1 Salem 9.228 22.637 3.937 2.487 650
2 Bantarkawung 23.111 44.445 5.388 3.277 906
3 Bumiayu 23.732 30.598 8.503 6.704 1.565
4 Paguyangan 26.937 28.876 8.825 4.872 814
5 Sirampog 15.258 15.386 6.065 3.199 668
6 Tonjong 16.119 19.321 8.380 4.182 931
7 Larangan 45.980 45.057 11.030 4.647 921
8 Ketanggungan 28.393 45.157 9.112 5.829 1.246
9 Banjarharjo 20.182 43.219 11.459 4.184 940
10 Losari 33.389 39.706 10.950 6.827 1.121
11 Tanjung 21.058 24.883 7.538 4.264 827
12 Kersana 21.058 16.990 5.042 2.714 591
13 Bulakamba 21.355 62.124 16.696 13.343 1.239
14 Wanasari 30.911 39.821 11.258 8.372 1.442
15 Songgom 40.266 18.887 6.437 5.105 1.033
16 Jatibarang 25.460 26.769 9.795 5.806 1.120
17 Brebes 16.825 41.096 17.937 20.073 6.091
JUMLAH 426.520 564.972 169.352 105.835 22.105

NAMA-NAMA BUPATI BREBES
Selama 326 tahun dari tahun 1678 sampai dengan tahun 2003, Kabupaten Brebes telah mempunyai Bupati sebagai berikut :
1. Tumenggung Arya Suralaya (1678-1683) 5 tahun
2. Tumenggung Puspanegara I
3. Tumenggung Puspaningrat
(Puspanegara II)(1683-1809) 126 tahun
4. Kemungkinan Puspanegara III
5. Kanjeng Adipati Ariya Panatayuda I
(Sura) (Dalem Sura) (1809-1836) 27 tahun
6. Kanjeng Adipati Ariya Panatayuda II
(Karta) (Dalem Kulampok) (1836-1850) 14 tahun
7. Kanjeng Adipati Ariya Singasari
Panatayuda III (surya) (dalem Karanganyar) (1850-1878) 28 tahun
8. Raden Tumenggung Cakraatmajaya
Pada tahun 1878 berganti nama
Menjadi Cakradiningrat (1876-1880) 4 tahun

9. Raden Mas Adipati Ariya
Candranegara I (1880-1885) 5 tahun
10. Raden Mas Tumenggung
Sumitra kemudian berganti nama
Raden Mas Adipati Ariya
Candranegara (II) (1885-1907) 22 tahun
11. Raden Mas Martana (1909-1929) 11 tahun
12. Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ariya
Purnama Hadiningrat (1920-1929) 9 tahun
13. Raden Sajirun (Hanya ± 8 bulan) (1929- )
14. Raden Adipati Ariya Sutirta Pringgahadirta (1931-1942) 11 tahun
15. Raden Sunarya (1942-1945) 3 tahun
16. Sarimin Reksadihardja (1946-1947) 1 tahun
17. Kyai Haji Syatori (1946-1947) 1 tahun
18. Raden Awal (1947-1949) 2 tahun
(Pada masa pemerintahan recomba/belanda)
Dalam kurun waktu ini di pedalaman (tepatnya di desa Ciputih/Bentarsari, Kecamatan Salem ada pemerintahan Kabupaten.
Brebes Bupatinya :
19. Agus Miftah (1947-1948) 1 Tahun
Kemudian Pemerintahan Kabupaten Brebes mengungsi lebih kedalam lagi, yaitu di Wanasaba, sampai pada pengakuan kedaulatan RI oleh kerajaan belanda, bupatinya :
20. Raden Sumarna
Bupati Raden Sumarna ini menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan kabupaten Brebes dari Raden Awal. Berarti telah memegang jabatan Bupati Brebes (1948-1950) 2 Tahun.
21. Mas Slamet (1950-1958) 6 Tahun
22. Raden Mardjaban (1956-1966) 10 tahun
23. Raden Sartono Gondosoewandito, S.H (1967-1979) 12 Tahun
24. H. Syafrul Supardi (1979-1989) 10 Tahun
25. H. Hardono (1989-1994) 5 Tahun
26. H. Syamsuddin Sagiman (1994-1999) 5 Tahun
27. H. M. Tadjudin Nuraly (1999-2001)
28. Indra Kusuma (2002-sekarang)

Nama   : Miftahul Faizin
Prodi   : PSIK-B
NIM    : 010113a073

Sabtu, 02 November 2013

REMAJA dan HUBUNGAN SOSIAL di SEKITARNYA



Remaja dan hubungan social di sekitarnya

Wawancara satu kelompok kami dengan sekelompok organisasi remaja club motor vixion yvci-h semarang
Tentang wawan cara kami mewawancarai tentang hubungan social mereka dengan wilayah sekitar
Sebagai rancangannya adalah sebagai berikut :
Nama yang kami wawancarai yaitu ketua harian club tersebut yang bernama sebut saja gembul
Dan ketua umumnya dia adalah ocel..
Dan club ini sangat solid sekali dan mereka berdiri sejak 07-07-07
Dan mereka juga sudah keliling touring ke plosok” wilayah antara lain jambi,Lombok,dan yang lainnya
Dan mereka d,sebut club karena mereka juga sering bersosiali sasi dengan masyarakat
Dan club tersebut juga ada aturan-aturan jalan yaitu harus safty ready
Dan kami juga menemukan hal yg sangat baik yaitu dalam club tersebut juga dapat kita ambil hikmah yaitu bias saling menambah pengetahuan social kita antara seseorang yang belum kita kenal dan mereka berpusat di Jakarta pusat.
Dan kita juga bias sering’ antara orang yg belim kenal.
Dan hasil dan kesimpulan yang kita dapat adalah mereka sebuah club motor yang ter organisir bukan geng motor yang abal’an dan mereka juga didasari atas hokum yang berlaku tidak hanya semata saja
Dan ternyata mereka juga saling menghormati antara pengendara lain bukan semata ingin menang sendiri jika berada di jalanan saat melaksanakan touring bersama.
Dan club tersebut tidaj hanya ber wisata saja tetapi melaksanakan amal social untuk orang orang yang membutuhkan bantuan .
Disusun oleh :
wahyu nurbiyantoro
Wandria robi ardi
Miftahul faizin
Sultan adniata
Agung nugroho
Zacka lutfi mubarak
Solihin

PRODI : PSIK-B

Rabu, 09 Oktober 2013

Adat Istiadat Daerah Brebes

ADAT ISTIADAT DAERAH BREBES
1.      Tari Topeng
Tari Topeng Brebes merupakan jenis tari topeng yang berkembang di wilayah Kabupaten Brebes khususnya berkembang di Kecamatan Losari yang terdapat pengaruh dari kebudayaan di wilayah Cirebon Jawa Barat. Tari topeng Brebes menceritakan legenda Joko Bluwo, seorang pemuda petani desa yang berwajah buruk rupa berkeinginan untuk mempersunting putri raja yang cantik jelita bernama Putri Candra Kirana. Dikisahkan, keinginan Joko Bluwo akhirnya dikabulkan sang raja, setelah Joko Bluwo memenuhi syarat yang diajukan Raja. Namun, di tengah pesta pernikahan, seorang raja dari kaum raksasa yang juga berkeinginan menikahi putri Candra Kirana datang dan membuat kekacauan. Dia mengajak bertarung pada Joko Bluwo untuk memperebutkan sang putri. Joko Bluwo akhirnya berhasil mengalahkan raja raksasa dan hidup bahagia bersama putri Candra Kirana. Tari Topeng Sinok adalah salah satu seni tari khas asal Brebes yang diciptakan oleh Suparyanto dari Dewan Kesenian Kabupaten Brebes yang menggambarkan perempuan yang cantik, luwes dan treingginas.

2.      Tarian Topeng Sinok
Tarian Topeng Sinok, menceritakan tentang perempuan Brebes, yang pada umumnya mereka merupakan adalah wanita pekerja keras. Kecantikan, keluwesan, dan kenggunannya tak mengurangi kecintaan mereka pada alam dan pekerjaannya sebagai petani. Tari yang merupakan paduan bentuk seni CirebonBanyumas dan Surakarta tersebut, seolah hendak mengatakan bahwa perempuan daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat ini bukanlah pribadi yang manja, cengeng, dan malas. Topeng Sinok ini diproyeksikan untuk menjadi tarian khas yang nantinya akan dipromosikan dan diajarkan ke sekolah-sekolah dan dijadikan pelajaran muatan lokal di Kabupaten Brebes.

3.      Reog Banjarharjo 
Reog Banjarharjo adalah salah satu kesenian tradisional yang berkembang di wilayah tengah Kabupaten Brebes tepatnya di Kecamatan Banjarharjo yang nyaris punah. Berbeda dengan reog yang selama kita kenal dari PonorogoJawa Timur. Dalam pertunjukan Reog Ponorogo ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa. Tapi reog asal Brebes, dimainkan dua orang bertopeng . Reog Banjarharjo dimainkan oleh dua orang, satu orang ditokohkan sebagai orang yang baik, dan satunya berwatak jahat. Tokoh yang baik mengenakan topeng pentul, dan yang jahat barongan. Dua lakon ini bertarung ketika pertunjukan berlangsung. Ceriteranya mengisahkan seputar mahluk halus yang menghuni sebuah tempat atau rumah. Manakala rumah itu akan ditempati, pentul datang untuk mengusir mahluk halus (barongan). Keduanya biasanya bertarung lebih dulu, sampai akhirnya dimenangkan pentul. Untuk memeriahkan atraksi dua tokoh itu, diiringi musik yang dimainkan tujuh orang satu juru kawi atau sinden. Yaitu, empat orang membawa tetabuhan seperti kendang yang digendong di depan, satu orang memainkan terompet, gong dan satu lagi kecrek. Tetabuhan kendang dipukul dengan tongkat, sambil menari mengikuti irama musik.
4.      Nyadran
Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, Sraddha yang artinya keyakinan. Secara sederhana Nyadran adalah kegiatan bersih makam yang dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Jawa yang umumnya tinggal di pedesaan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak jaman Hindu-Budha sebelum masuknya ajaran Islam ke tanah Jawa. Dan sejak abad ke-15  para Sunan atau yang dikenal dengan sebutan Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dalam dakwahnya untuk menyebarkan ajaran Islam supaya mudah diterima. Nyadran bisa dipahami sebagai sebuah simbolisasi hubungan antara seseorang dengan leluhur, dengan sesama dan hubungan dengan Tuhan. Menurut Bapak Rakwin selaku sesepuh desa bahwa bentuk kegiatan upacara nyadran  adalah berupa acara massal membersihkan makam dan mendoakan para pendahulu supaya mendapatkan ampunan dan keselamatan dari Tuhan.Nyadran yang saya temui merupakan nyadran yang berbeda dari masyrakat yang lain.Nyadran di sini adalah bukan hanya memberihkan makam saja tapi berkunjung kerumah suadara yang lebih tua dengan membawa gula,teh,rokok,kupat-lepet,makanan yang lainny.Nyadran di sini adalah silaturahmi keluarga yang dilaksanakn bertepatan setelah shalat idul fitri.Dalam Nyadran di masyarakat Kubangsari secara turun temurun bila berkunjung ke saudara yang lebih tua mereka harus membawa kewajiban yaitu rokok,gula,teh,dan lain sebagainya.Itu sudah menjadi ritual Nyadran di masyarakat Kubangsari.
2.2 Ritual Nyadran
      Nyadran biasanya di laksanakan bertepan dengan 1 Syawal atau Idul Fitri,Nyadran dilakukan setelah shalat Idul Fitri.Masyarakat Kubangsari sebelum berangkat Nyadran mereka sudah menyiapkan sesaji di rumah yang diletakan di atas meja besar sebagai bentuk wujud terimakasih kepada sang maha kuasa dan sebagai doa untuk para leluhur yang sudah mendahului.Setelah shalat Idul Fitri,masyarakat berkumpul dengan kerabatnya masing-masing untuk menuju ke makam bersama-sama,mereka membawa kembang tujuh rupa,menyan,sapu lidi,dan lain-lain.Sapu lidi digunakan untuk besik makam atau untuk membersihkan makam.Masyarakat berkumpul di suatu makam leluhurnya atau keluarga yang sudah meninggal.Salah satu warga atau keluarga memimpin doa untuk tahlilan,setelah itu pemimpin tersebut membakar menyan,setelah itu satu persatu keluarga untuk membakar menyan dan berdoa memohon ampunan kepada sang maha kuasa dan mendoakan orang yang ada di dalam kubur tersebut,setelah itu mereka menabur bunga tujur rupa tersebut.Setelah semua keluarga sudah mendoakan keluarga yangs udah meninggal,mereka pulang dan menuju keluarga yang paling tua,seperti nenek-kakek.Semua keluarga dari anak,cucu,sampai cicit berkumpul di rumah keluarga yang paling tua.Dari anak yang paling tua satu persatu meminta maaf sampai ke keluarga yang paling muda.Setelah itu keluarga berkumpu lagi dan di situ mereka makan bersama.Mereka makan kupat dengan opor ayam sebagai tradisi idul fitri atau lanjutan dari ritual nyadran tersebut.Setelah itu mereka pada pulang kerumah dan menyiapkan untuk berkunjung ke rumah saudara-saudaranya.
      Ritual Nyadran di lanjutkan untuk berkunjung ke rumah saudara yang paling tua,sebagai bentuk silaturahmi.Masyarakat Kubangsari biasa silaturahmi diwaktu setelah besik makam yang di namai Nyadran,nyadran di sini adalah berkunjung ke rumah saudara yang paling tua dengan membawa Rokok,gula,teh dan yang lainnya merupakan pelengkap. Nyadran juga memberikan contoh kepada manusia, khususnya generasi muda agar mereka menyadari perannya yang mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk selalu menghormati para leluhur atau orang tuanya, baik yang masih ada ataupun sudah tiada.
      Upacara Nyadran juga menggunakan sarana atau sesaji yang juga disesuaikan dengan tempat, waktu, kebutuhan, dan pelaku. Sesaji memegang peranan penting karena merupakan sarana penghantar doa manusia kepada Tuhan. Secara sosio-kultural, implementasi dari ritus nyadran tidak hanya sebatas membersihkan makam-makam leluhur tetapi dilanjutkan dengan adanya selamatan (kenduri), membuat kue apem, kolak, dan ketan sebagai unsur sesaji sekaligus landasan ritual doa. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi keluarga dan sekaligus menjadi transformasi sosial, budaya, dan keagamaan.
Prosesi ritual nyadran biasanya dimulai dengan membuat kue apem kupat-lepet, ketan, dan kolak. Kue-kue tersebut selain dipakai munjung/ater-ater (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubarampe (pelengkap) kenduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama. Di sini ada hubungan kekerabatan, kebersamaan, kasih sayang di antara warga atau anggota yang lain. Di samping itu, semakin jelas adanya nilai transformasi budaya dan tradisi dari yang tua kepada yang muda.
Nyadran merupakan ekspresi dan ungkapan kesalehan sosial masyarakat di mana rasa gotong- royong, solidaritas, dan kebersamaan menjadi pola utama dari tradisi ini. Ungkapan ini pada akhirnya akan menghasilkan sebuah tata hubungan vertikal-horizontal yang lebih intim. Dalam konteks ini, maka nyadran akan dapat meningkatkan pola hubungan dengan Tuhan dan masyarakat (sosial), sehingga akhirnya akan meningkatkan pengembangan kebudayaan dan tradisi yang sudah berkembang menjadi lebih lestari. Dalam konteks sosial dan budaya, nyadran dapat dijadikan sebagai wahana dan medium perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme (Gatot Marsono). Dalam prosesi ritual atau tradisi nyadran kita akan berkumpul bersama tanpa ada sekat-sekat dalam kelas sosial dan status sosial, tanpa ada perbedaan agama dan keyakinan, golongan ataupun partai.
Nyadran menjadi ajang untuk berbaur dengan masyarakat, saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Nuansa kedamaian, humanitas dan familiar sangat kental terasa. Apabila nyadran ditingkatkan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Indonesia ini menjadi benar-benar rukun, ayom-ayem, dan tenteram. Nyadran dalam konteks Indonesia saat ini telah menjelma sebagai refleksi, wisata rohani kelompok masyarakat di tengah kesibukan sehari-hari. Masyarakat, yang disibukkan dengan aktivitas kerja yang banyak menyedot tenaga sekaligus (terkadang) sampai mengabaikan religiusitas, melalui nyadran, seakan tersentak kesadaran hati nuraninya untuk kembali bersentuhan dan bercengkrama dengan nilai-nilai agama islam.
Kegiatan masak memasak untuk makan bersama keluarga setelah pulang dari makam atau setelah kegatan sungkem


Nama  : Miftahul Faizin
NIM     : 010113a073

Prodi   : PSIK-B